Memahami Sistem Merit Tanpa Berbelit-belit

Written by  Feb 05, 2021

Seperti yang sudah jamak digaungkan, Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) berfungsi mengawasi penerapan sistem merit di seluruh instansi pemerintah. Sistem tersebut menjadi syarat wajib untuk mencapai cita-cita reformasi birokrasi. 

“Sebagaimana kita pahami, kita sekarang hidup dalam dunia yang berubah sangat cepat. Tahun 2021 ini adalah dunia yang harus kita respons dengan cara berbeda. Cara yang dalam bahasa dipakai orang itu lincah,” kata Ketua KASN Prof. Agus Pramusinto, MDA dalam Rapat Koordinasi Penguatan Tata Kelola Manajemen ASN Berbasis Sistem Merit di Kantor Regional XII BKN Pekanbaru, Jumat (5/2/2021). 

01

Dari 184 instansi yang dinilai sistem meritnya oleh KASN sejak 2019 hingga 2020, sebanyak 81 kementerian/lembaga/pemda berhasil mendapatkan kategori baik dan sangat baik. Meski begitu masih ada instansi lain yang memiliki kendala dalam memaksimal penerapan sistem merit mereka. Salah satunya adalah pemahaman sistem merit yang belum utuh.

Lalu, apa yang dimaksud dengan sistem merit? Kepala Badan Kepegawaian Nasional Bima Haria Wibisana memberikan uraian singkat untuk memahaminya dengan mudah. 

Berikut uraian Bima seperti yang disampaikan dalam Rakor Penguatan Tata Kelola Manajemen ASN Berbasis Sistem Merit di Kantor Regional XII BKN Pekanbaru.

02

Apa yang dimaksud dengan sistem merit?

Sistem merit itu lebih kepada values yang harus kita penuhi. Banyak sebenarnya definisi akademisnya. Tapi secara sederhana, sistem merit itu suatu pertanyaan seperti ini, kalau ada seseorang yang memiliki kompetensi lebih baik dan karakter yang lebih kuat, apakah dia berhak mendapatkan kesempatan lebih dulu? Jawabannya, iya.

Atau dibalik pertanyaannya. Kalau ada orang kompetensinya dan atau karakternya di bawah saya, menurut pandangan subjektif saya apakah saya ikhlas dia mendapatkan kesempatan terlebih dahulu? Jawabannya, tidak. 

Jadi sesederhana itu sebetulnya sistem merit. Kita memberikan kesempatan kepada seseorang yang memiliki kompetensi dan perilaku atau karakter yang baik. 

Lantas, bagaimana cara mengukur kompetensi seseorang selaras dengan sistem merit?

Nah, tentu ada caranya untuk mengidentifikasi agar penilaian itu menjadi objektif. Salah satu cara adalah dengan assessment center. Validitas assessment center itu sekitar maksimum 70 persen. 

Mengapa memakai assessment center, bukan cara yang lain?

Karena tidak ada metode lain yang lebih tinggi daripada itu. Assessment center pasti paling tinggi. Kalau wawancara saja itu validitasnya dua persen karena kita subjektif ketika wawancara. 

Kita bisa melihat potret kompetensi seseorang dan karakternya dari assessment-nya. (Lalu) kita bisa membuat analisis kebutuhan pelatihan. 

Assessment center itu merupakan instrumen bagaimana kita mengelola SDM kita dengan lebih baik. Dan pengelolaan itu disebut dengan manajemen talenta atau talent management. Talent itu memiliki banyak unsur dan sistem merit adalah salah satunya. 

Apa manfaat dari manajemen talenta?

Kalau ada ukuran (penilaian objektif) seperti itu, dan Anda punya assessment yang komplet, bisa merencanakan, bisa mengelola SDM dengan baik, apakah diperlukan seleksi terbuka? Tidak perlu sejauh Anda punya talent management. Jadi yang perlu kita kejar saat ini adalah bagaimana membangun talent management itu sehingga tidak perlu dilakukan seleksi terbuka.

Tapi, syaratnya Anda harus membangun sistem manajemen talenta itu. Job description-nya harus jelas, peta kompetensi masing-masing individu harus jelas sehingga mereka (ASN) bisa merencanakan karier mereka sendiri. (NQA/Humas)

Last modified on Friday, 05 February 2021 17:26

JADWAL SHOLAT

 

Government Public Relations

 

Agenda Kegiatan

« April 2021 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30    

Berita Terkini